Selasa, 10 Januari 2012

Tugas UTS PSI ku


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang
Sesuai dengan namanya, Cerpen adalah cerita yang relative pendek, yang selesai di baca dalam kurun waktu sesaat atau sekali duduk. Proses sekali duduk juga dapat diartikan sebagai memahami isi.   Proses pemahaman cerpen akan sempurna jika kita dapat menganalisa unsur yang ada di dalamnya.  Dalam pembahasan Makalah ini, Unsur yang akan dijelaskan adalah Unsur Intrinsik dalam batasan Cerpen “Pelajaran Mengarang” karya Seno Goemira Ajidarma.
Cerpen merupakan salah satu Genre sastra yang kriterianya berasal dari perwujudan teks naratif (epik), dalam karya sastra terdapat Aliran sastra yang pada dasarnya berupaya menggambarkan prinsip atau pandangan hidup seorang pengarang didalam karya sastranya. Pembahasan di bab berikutnya akan di jelaskan Aliran Sastra dalam batasan Cerpen “Pelajaran Mengarang” karya Seno Goemira Ajidarma.
1.2.       Rumusan Masalah
Dari Latar belakang di atas, Penulis dapat merumuskan masalah
1.       Bagaimana Analisisi Unsur Intrinsik dalam Cerpen Pelajaran Mengarang Seno Gumira Ajidarma?
2.       Apa Aliran dari cerpen Pelajaran Mengarang karya Seno Gumira Ajidarma?
3.       Bagaimana cerpen Pelajaran Mengarang karya Seno Gumira Ajidarma?
1.3.       Tujuan
Dari latar belakang dan rumusan masalah diatas, maka Tujuan dari Makalah ini adalah:
1.       menganalisisi Unsur Intrinsik dalam Cerpen Pelajaran Mengarang Seno Gumira Ajidarma.
2.       Mengetahui Aliran dari cerpen Pelajaran Mengarang karya Seno Gumira Ajidarma.
3.       Mengetahui isi cerpen Pelajaran Mengarang karya Seno Gumira Ajidarma.








BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Unsur –Unsur Intrinsik
                Dalam Pembahasan kali ini, Penulis membatasi materi pembahasan hanya pada unsur  Intinsik.
                Cerpen sebagai salah satu karya rekaan (fiksi), merupakan satu kesatuan yang terdiri dari berbagai unsur. Unsur-unsur itu saling berkaitan, tidak terpisahkan satu sama lain, dan secara bersama-sama membentuk cerita (Rusyana,1982: 65)
Unsur yang di maksud adalah Unsur Intrinsik dan Unsur Ekstrinsik.
Unsur Ektrinsik adalah isi suatu karya sastra yang berkaitan dengan kenyataan-kenyataan diluar karya itu ( Sukada, 1993: 63) . sedangkan unsur Intrinsik adalah unsur  yang membangun karya itu sendiri yang menyebabkan karya itu hadir (Nurgiyantoro, 1998: 23). Dapat disimpulkan, dalam sebuah karya sastra tidak akan lepas dari kedua Unsur itu.

Unsur Intrinsik dalam cerpen antara lain:
a.       Tema
        Sumarjo dan Saini mengemukakan definisi tema adalah ide sebuah cerita (1991: 56). Sedangkan Hartoko dan Rachmanto mendefinisikan tema sebagai anggapan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra, dan yang terkandung dalam teks sebagai unsur sematis (dalam Nurgiyantoro,1998: 68)
Tema merupakan pokok pikiran yang menjadi dasar cerita, dalam hal tertentu tema sering di sininomkan dengan ide atau tujuan utama cerita. Kedudukan tema dalam cerpen sangat penting karena tema merupakan inti cerita yang mengikat keseluruhan unsur-unsur intrinsik. Tema biasanya tidak dicantumkan secara eksplisit oleh pengarang, pembaca justru kadang harus menafsirkan tema dari data-data yang didapatnya dari unsur-unsur intrinsik penyusun cerpen. Begitu juga dengan cepen “Pelajaran Mengarang”, Tema yang terkandung juga tersamar. Maka, ide cerita yang memuat keseluruhan cerita dalam cerpen tersebut penulis simpulkan berdasarkan pemahaman yakni bertema tentang kehidupan seorang pelacur. Pengarang membingkis sebuah kehidupan seorang pelacur dari segi anak yang seakan-akan tidak sengaja ia lahirkan, seorang anak yang kemudian ia sekolahkan dan dalam sekolah anak tersebut harus berpikir
keras mengenai Ibunya untuk memenuhi tugas dalam pelajaran mengarang. Dan Anak tersebut menjadi tokoh utama dalam cerita.
b.      Amanat
        Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan pengarang pada pembaca. Akhir permasalahan ataupun jalan keluar dari permasalahan yang timbul dalam sebuah cerita, keduanya bisa di sebut amanat. Rusyana mengemukakan pendapatnya tentang amanat, sebagai renugan yang disajikan kembali kepada pembaca (1982: 74), Nurgiantoro membaginya dalam dua wujud atau bentuk, yaitu penyampaian langsung dan penyampaian tak langsung (1998:335). Dalam Cerpen “Pelajaran Mengarang” pengarang tidak serta merta menyampaikan pesannya kedalam teks, pengarang menyampaikan pesannya secara tidak langsung. Penyampaian tak langsung adalah penyampaian pesan secara tersirat, terpadu dalam unsur cerita lainnya. Amanat yang terkandung dalam cerpen tersebut adalah sebuah pelajaran bagi pembaca seberapa pentingnya peran keluaga sebagai pembentuk pribadi seorang anak, terutama Ibu.
c.       Alur/plot
        Alur adalah Struktur naratif bagi seluruh cerita dan harus dapat menjalankan tugasnya dalam menyelesaikan gagasan hingga menjadi satu kesatuan cerita yang utuh di dalam pengesahan cerita (Sudjirman, 1991: 31). Selanjutnya menurut Sudjirman, pengaluran dalam suatu cerita adalah pengeluaran urutan penampilan peristiwa untuk memenuhi berbagai tuntutan sehingga peristiwa itu dapat tersususn dalam hubungan sebab akibat. Pendapat itu di pertegas oleh Sumardjo dan Saini dengan mengemukakan bahwa alur adalah rangakaian peristiwa yang satu sama lain di timbulkan dengan hubungan sebab akibat. Peristiwa A adalah penyebab terjadinya peristiwa B, peristiwa B penyebab peristiwa C, dan seterusnya (1991: 139) dalam “Pelajaran Mengarang” karya Seno Gumira Ajidarma ini termasuk Alur Campuran berdasarkan:
Menuru Sumarjo dan Saini alur terdiri atas alur mundur, alur maju, dan alur gabungan (1991: 434). Selanjutnya masih menurut Sumarjo dan Saini, alur dapat dipecah lagi menjadi bagian-bagian berikut:
Alur
Dalam Cerpen Pelajaran Mengarang
Pengenalan
Pelajaran mengarang sudah dimulai.
Timbul KOnflik
Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja. Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih. Judul pertama “Keluarga Kami yang Berbahagia”. Judul kedua “Liburan ke Rumah Nenek”. Judul ketiga “Ibu”.

Sepuluh menit segera berlalu. Tapi Sandra, 10 Tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya. Ia memandang keluar jendela. Ada dahan bergetar ditiup angin kencang. Ingin rasanya ia lari keluar dari kelas, meninggalkan kenyataan yang sedang bermain di kepalanya. Kenyataan yang terpaksa diingatnya, karena Ibu Guru Tati menyuruhnya berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, “Liburan ke Rumah Nenek”, “Ibu”.  Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci.

Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang
Konflik memuncak
Lima belas menit telah berlalu. Sandra tak mengerti apa yang harus dibayangkanya tentang sebuah keluarga yang berbahagia.

Empat puluh menit lewat sudah.
“Yang sudah selesai boleh dikumpulkan,” kata Ibu guru Tati.
Belum ada secoret kata pun di kertas Sandra. Masih putih, bersih, tanpa setitik pun noda. Beberapa anak yang sampai hari itu belum mempunyai persoalan yang teralalu berarti dalam hidupnya menulis dengan lancar. Bebarapa diantaranya sudah selesai dan setelah menyerahkannya segera berlari keluar kelas.
Sandra belum tahu judul apa yang harus ditulisnya.
“Kertasmu masih kosong, Sandra?” Ibu Guru Tati tiba-tiba bertanya.
Sandra tidak menjawab. Ia mulai menulis judulnya: Ibu. Tapi, begitu Ibu Guru Tati pergi, ia melamun lagi.

Klimaks
“Waktu habis, kumpulkan semua ke depan,” ujar Ibu Guru Tati.
Semua anak berdiri dan menumpuk karanganya di meja guru. Sandra menyelipkan kertas di tengah.
Pemecahan masalah
Ia memang belum sampai pada karangan Sandra, yang hanya berisi kalimat sepotong:
Ibuku seorang pelacur…


Dan ketika sampai pada Konflik tokoh, mengingat peristiwa yang terjadi di rumah, jadi terdapat alur mundur sesaat (flashback) kemudian melanjutkan runtutan alur kemali, dan pada saat konflik memuncak pun, terdapat flash back.
d.      Tokoh
        Tokoh adalah individu ciptaan/rekaan pengarang yang mengalami peristiwa-peristiwa atau lakuan dalam berbagai peristiwa cerita. Pada umumnya tokoh berwujud manusia, namun dapat pula berwujud binatang atau benda yang di insankan. Tokoh dapat di bedakan menjadi dua, yaitu:
1.       Tokoh sentral protagonis, yaitu tokoh yang membawakan perwatakan positif atau menyampaikan nila-nilai positif.
2.       Tokoh sentral antagonis, yaitu tokoh yang membawakan perwatakan yang bertentangan dengan protagonist atau menyampaikan nilai-nilai negatife
Adapun tokoh bawahan adalah tokoh-tokoh yang mendukung atau membantu tokoh sentral baik protagonist ataupun atagonis.
1.       Tokoh andalan adalah tokoh bawahan yang menjadi kepercayaan tokoh sentral
2.       Tokoh tambahan adalah tokoh yang sedikit memegang peran dalam peristiwa cerita
3.       Tokoh lantaran adalah tokoh yang menjadi bagian atau berfungsi sebagai latar cerita saja
Adapun dalam cerpen “ Pelajaran Mengarang” Tokoh-tokohnya yakni:
Tokoh sentral protagonis      :               Sandra
Tohoh andalan protagonis   :               Ibu Guru Tati
Tokoh sentral antagonis        :               Mama (Marti)
Tokoh andalan antagonis      :               Mami
e.      Setting/latar
        Latar atau setting mengarah pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa yang diceritakan (Abrams dalam Nurgiyantoro, 1998: 216) sedangkan Fungsinya adalah memberikan informasi tentang situasi bagaimana adanya, merupakan proyeksi keadaan batin para tokoh. Latar kaitannya dengan unsure-unsur lain, sebagai penokohan. Gambaran latar yang tepat bisa menentukan ambaran watak tokoh.
Adapun latar dalam cerpen “Pelajaran Mengarang” adalah:
     Latar Netral
·         Latar tempat              :  berhubungan dengan tempat kejadian
o   Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja
o   Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran diatas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur,
o   Di tempat kerja wanita itu, meskipun gelap, Sandra melihat banyak orang dewasa berpeluk-pelukan sampai lengket. Sandra juga mendengar musik yang keras, tapi Mami itu melarangnya nonton.
o   Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini atau ke plaza itu
o   Di rumahnya, sambil nonton RCTI, Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya.
·         Latar Waktu                : berhubungan dengan waktu kejadian
o   bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah
o   pagi hari di sekolah
o   Empat puluh menit lewat sudah
o   Malam hari ketika Sandra belum tertidur
·         Latar social                  : berhubungan dengan suasana social tokoh
o   Ibu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut.
o   Ibu Guru Tati mondar-mandir di depan kelas
o   meskipun gelap
     Latar Spiritual                     :
Selesai membacakan cerita wanita itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya berjanji menjadi anak baik-baik.
     Latar Sosial
·         kelompok sosial dan sikap    :
o   Sandra melihat banyak orang dewasa berpeluk-pelukan sampai lengket. Sandra juga mendengar musik yang keras
·         cara hidup                                   :
o   Seorang wanita yang selalu merokok, selalu bangun siang, yang kalau makan selalu pakai tangan dan kaki kanannya selalu naik keatas kursi.

f.        Perwatakan
        Perwatakan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh. Dalam pembicaraan sebuah cerita pendek sering di pergunakan istilah watak dan perwatakan, atau karakter dan karakterisasi. Perwatakan atau penokohan berbeda dengan tokoh. Tokoh adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, sedangakn penokohan ialah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.
Seperti halnya dalam Cerpen “Pelajaran Mengarang”.
·         Tokoh Sandra memiliki Watak sebagai berikut:
-polos
-membenci pelajaran mengarang dan bu Tati
-tertutup
-penurut

Berdasarkan
Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci.
Ia tidak bisa bercerita apa adanya seperti anak-anak yang lain
ia sudah belajar untuk tidak pernah mengungkapkanya.
dan ia memang menjadi anak yang patuh
“Mama, mama, kenapa menangis, Mama?”

·         Tokoh Ibu Guru Tati
-Pengertian
-Perhatian
-bertangung jawab

Berdasarkan

Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih
“Kertasmu masih kosong, Sandra?” Ibu Guru Tati tiba-tiba bertanya
 Ibu Guru Tati mondar-mandir di depan kelas
Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya
·         Tokoh Mama
-Menyesali dirinya sebagai Ibu dan Pelacur
- berkata-kata kasar
-Acuh
-sayang pada Sandra

Berdasarkan

“Lewat belakang, anak jadah, jangan ganggu tamu Mama,”
Tentu saja punya, Anak Setan! Tapi, tidak jelas siapa! Dan kalau jelas siapa belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa! Taik Kucing dengan Papa!”
Seorang wanita yang selalu merokok, selalu bangun siang, yang kalau makan selalu pakai tangan dan kaki kanannya selalu naik keatas kursi.
“Diam, Anak Setan!”
“Berjanjilah pada Mama, kamu akan jadi wanita baik-baik, Sandra.”

·         Tokoh Mami

-suka mengancam
-suka dandan berlebihan
-menyebalkan

Berdasarkan

“Jangan Rewel Anak Setan! Nanti kamu kuajak ke tempatku kerja, tapi awas, ya? Kamu tidak usah ceritakan apa yang kamu lihat pada siapa-siapa, ngerti? Awas!”
Wanita itu sudah tua dan menyebalkan

g.       Point of view
        Sudut pandang atau point of view adalah cara pengarang menggambarkan cerita lewat narasinya. Cara pengarang memandang dan mengfhadirkan tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu. Dalam cerpen “Pelajaran Mengarang”, pengarang yakni Seno Goemira Ajidarma menempatkan dirinya sebagai pencerita dan bukan tokoh utama dan bukan sebagai tokoh dalam cerita, sedangkan tokoh utama ia gambarkan dengan kata ganti ketiga, yakni Ia. Jadi Point of view dari cerpen tersebut adalah orang ketiga pelaku utama.
h.      Suspense dan foreshadowing
        Suspense merupakan elemen penting dari kisah apapun, dalam sebuah cerita pasti ada ketegangan setelah konflik menjelang penyelesaian. Sebuah elemen penting dari Suspense yang sering dilupakan adalah foreshadowing (pratanda).
Dalam cerpen “Pelajaran Mengarang” pun sedah tentu terdapat Suspense dan foreshadowing. Suspense terjadi ketika Sandra memikirkan tentang keluarga yang bahagia, tenting Ibu dan LIburan ke rumah Nenek. Semua Suspense mengarah kepada foreshadowing bahwa Ibu Sandra adalah seorang pelacur.


i.         Limited focus dan Unity
        Terbatas focus dan kesatuan. Focus cerita adalah pelajaran mengarang. Pengarang tetap terbatas pada Pelajaran Mengarang oleh Ibu Tati sebagai Awal dan Akhir cerita, meskipun pada umumnya didalam cerita Sandra banyak memikirkan tentang apa yang ingin ia karang.
j.        Bahasa
Bahasa yang di gunakan adalah Bahasa Indonesia.
k.       Gaya bahasa dan majas
        Sebuah bahasa dalam tulisan, merupakan alat komunikasi dari Pengarang cerita untuk pembaca. Sedangkan dalam karya Sastra, bahasa yang digunakan adalah bahasa sastra, bahasa yang penuh estetika, bahasa yang memiliki keunikan dan gaya bahasa atau Majas. Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis. dalam karyanya, Seno Goemira Ajidarma hanya memakai beberapa majas dalam karyanya misalnya dalam kata “Kenyataan yang sedang bermain di kepalanya” yang masuk majas personifikasi. Selain itu hanya berupa bahasa yang estetik saja

2.2. Aliran
                Cerpen “Pelajaran Mengarang” karya Seno Gumira Ajidarma sebagai objek penulis klasifikasikan ke dalam Aliran Realisme. Karena di dalam pengolahan cerita berdasarkan Unsur-unsur yang terkandung didalamnya pengarang melukiskan dengan Objektif tanpa ikut bermain di dalam ceritanya, pengarang melukiskan latar belakang kehidupan keluarga Sandra dengan detail.
2.3   Lampiran Cerpen

Pelajaran Mengarang

      
Pelajaran mengarang sudah dimulai.
Kalian punya waktu 60 menit”, ujar Ibu Guru Tati.
Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja. Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih. Judul pertama “Keluarga Kami yang Berbahagia”. Judul kedua “Liburan ke Rumah Nenek”. Judul ketiga “Ibu”.
Ibu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus pada pena kertas. Anak-anak itu sedang tenggelam ke dalam dunianya, pikir Ibu Guru Tati. Dari balik kaca-matanya yang tebal, Ibu Guru Tati memandang 40 anak yang manis, yang masa depannya masih panjang, yang belum tahu kelak akan mengalami nasib macam apa.
Sepuluh menit segera berlalu. Tapi Sandra, 10 Tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya. Ia memandang keluar jendela. Ada dahan bergetar ditiup angin kencang. Ingin rasanya ia lari keluar dari kelas, meninggalkan kenyataan yang sedang bermain di kepalanya. Kenyataan yang terpaksa diingatnya, karena Ibu Guru Tati menyuruhnya berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, “Liburan ke Rumah Nenek”, “Ibu”.  Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci.
Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang. Ia tidak bisa bercerita apa adanya seperti anak-anak yang lain. Untuk judul apapaun yang ditawarkan Ibu Guru Tati, anak-anak sekelasnya tinggal menuliskan kenyataan yang mereka alami. Tapi, Sandra tidak, Sandra harus mengarang. Dan kini Sandra mendapat pilihan yang semuanya tidak menyenangkan.
Ketika berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran diatas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah.
“Lewat belakang, anak jadah, jangan ganggu tamu Mama,” ujar sebuah suara  dalam ingatannya, yang ingin selalu dilupakannya.
***
    
Lima belas menit telah berlalu. Sandra tak mengerti apa yang harus dibayangkanya tentang sebuah keluarga yang berbahagia.
“Mama, apakah Sandra punya Papa?”
“Tentu saja punya, Anak Setan! Tapi, tidak jelas siapa! Dan kalau jelas siapa belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa! Taik Kucing dengan Papa!”
Apakah Sandra harus berterus terang? Tidak, ia harus mengarang. Namun ia tak punya gambaran tentang sesuatu yang pantas ditulisnya.
Dua puluh menit berlalu. Ibu Guru Tati mondar-mandir di depan kelas. Sandra mencoba berpikir tentang sesuatu yang mirip dengan “Liburan ke Rumah Nenek” dan yang masuk kedalam benaknya adalah gambar seorang wanita yang sedang berdandan dimuka cermin. Seorang wanita dengan wajah penuh kerut yang merias dirinya dengan sapuan warna yang serba tebal. Merah itu sangat tebal pada pipinya. Hitam itu sangat tebal pada alisnya. Dan wangi itu sangat memabukkan Sandra.
“Jangan Rewel Anak Setan! Nanti kamu kuajak ke tempatku kerja, tapi awas, ya? Kamu tidak usah ceritakan apa yang kamu lihat pada siapa-siapa, ngerti? Awas!”
Wanita itu sudah tua dan menyebalkan. Sandra tak pernah tahu siapa dia. Ibunya memang memanggilnya Mami. Tapi semua orang didengarnya memanggil dia Mami juga. Apakah anaknya begitu banyak? Ibunya sering menitipkan Sandra pada Mami itu kalau keluar kota berhari-hari entah ke mana.
Di tempat kerja wanita itu, meskipun gelap, Sandra melihat banyak orang dewasa berpeluk-pelukan sampai lengket. Sandra juga mendengar musik yang keras, tapi Mami itu melarangnya nonton.
“Anak siapa itu?”
“Marti.”
“Bapaknya?”
“Mana aku tahu!”
Sampai sekarang Sandra tidak mengerti. Mengapa ada sejumlah wanita duduk diruangan kaca ditonton sejumlah lelaki yang menujuk-nunjuk mereka.
“Anak kecil kok dibawa kesini, sih?”
“Ini titipan si Marti. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian dirumah. Diperkosa orang malah repot nanti.”
Sandra masih memandang keluar jendela. Ada langit biru diluar sana. Seekor burung terbang dengan kepakan sayap yang anggun.
***
Tiga puluh menit lewat tanpa permisi. Sandra mencoba berpikir tentang “Ibu”. Apakah ia akan menulis tentang ibunya? Sandra melihat seorang wanita yang cantik. Seorang wanita yang selalu merokok, selalu bangun siang, yang kalau makan selalu pakai tangan dan kaki kanannya selalu naik keatas kursi.
Apakah wanita itu Ibuku? Ia pernah terbangun malam-malam dan melihat wanita itu menangis sendirian.
“Mama, mama, kenapa menangis, Mama?”
Wanita itu tidak menjawab, ia hanya menangis, sambil memeluk Sandra. Sampai sekarang Sandra masih mengingat kejadian itu, namun ia tak pernah bertanya-tanya lagi. Sandra tahu, setiap pertanyaan hanya akan dijawab dengan “Diam, Anak Setan!” atau “Bukan urusanmu, Anak Jadah” atau “Sudah untung kamu ku kasih makan dan ku sekolahkan baik-baik. Jangan cerewet kamu, Anak Sialan!”
Suatu malam wanita itu pulang merangkak-rangkak karena mabuk. Di ruang depan ia muntah-muntah dan tergelatak tidak bisa bangun lagi. Sandra mengepel muntahan-muntahan itu tanpa bertanya-tanya. Wanita yang dikenalnya sebagai ibunya itu sudah biasa pulang dalam keadaan mabuk.
“Mama kerja apa, sih?”
Sandra tak pernah lupa, betapa banyaknya kata-kata makian dalam sebuah bahasa yang bisa dilontarkan padanya karena pertanyaan seperti itu.
Tentu, tentu Sandra tahu wanita itu mencintainya. Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini atau ke plaza itu. Di sana Sandra bisa mendapat boneka, baju, es krim, kentang goreng, dan ayam goreng. Dan setiap kali makan wanita itu selalu menatapnya dengan penuh cinta dan seprti tidak puas-puasnya. Wanita itu selalu melap mulut Sandra yang belepotan es krim sambil berbisik, “Sandra, Sandra …”
Kadang-kadang, sebelum tidur wanita itu membacakan sebuah cerita dari sebuah buku berbahasa inggris dengan gambar-gambar berwarna. Selesai membacakan cerita wanita itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya berjanji menjadi anak baik-baik.
“Berjanjilah pada Mama, kamu akan jadi wanita baik-baik, Sandra.”
“Seperti Mama?”
“Bukan, bukan seperti Mama. Jangan seperti Mama.”
Sandra selalu belajar untuk menepati janjinya dan ia memang menjadi anak yang patuh. Namun wanita itu tak selalu berperilaku manis begitu. Sandra lebih sering melihatnya dalam tingkah laku yang lain. Maka, berkelebatan di benak Sandra bibir merah yang terus menerus mengeluaran asap, mulut yang selalu berbau minuman keras, mata yang kuyu, wajah yang pucat, dan pager …
Tentu saja Sandra selalu ingat apa yang tertulis dalam pager ibunya. Setiap kali pager itu berbunyi, kalau sedang merias diri dimuka cermin, wanita itu selalu meminta Sandra memencet tombol dan membacakannya.
     
DITUNGGU DI MANDARIN
KAMAR: 505, PKL 20.00
     
Sandra tahu, setiap kali pager ini menyebut nama hotel, nomor kamar, dan sebuah jam pertemuan, ibunya akan pulang terlambat. Kadang-kadang malah tidak pulang sampai dua atau tiga hari. Kalau sudah begitu Sandra akan merasa sangat merindukan wanita itu. Tapi, begitulah , ia sudah belajar untuk tidak pernah mengungkapkanya.
***
Empat puluh menit lewat sudah.
“Yang sudah selesai boleh dikumpulkan,” kata Ibu guru Tati.
Belum ada secoret kata pun di kertas Sandra. Masih putih, bersih, tanpa setitik pun noda. Beberapa anak yang sampai hari itu belum mempunyai persoalan yang teralalu berarti dalam hidupnya menulis dengan lancar. Bebarapa diantaranya sudah selesai dan setelah menyerahkannya segera berlari keluar kelas.
Sandra belum tahu judul apa yang harus ditulisnya.
“Kertasmu masih kosong, Sandra?” Ibu Guru Tati tiba-tiba bertanya.
Sandra tidak menjawab. Ia mulai menulis judulnya: Ibu. Tapi, begitu Ibu Guru Tati pergi, ia melamun lagi. Mama, Mama, bisiknya dalam hati. Bahkan dalam hati pun Sandra telah terbiasa hanya berbisik.
Ia  juga hanya berbisik malam itu, ketika terbangun karena dipindahkan ke kolong ranjang. Wanita itu barangkali mengira ia masih tidur. Wanita itu barangkali mengira, karena masih tidur maka Sandra tak akan pernah mendengar suara lenguhnya yang panjang maupun yang pendek di atas ranjang. Wanita itu juga tak mengira bahwa Sandra masih terbangun ketika dirinya terkapar tanpa daya dan lelaki yang memeluknya sudah mendengkur keras sekali. Wanita itu tak mendengar lagi ketika dikolong ranjang Sandra berbisik tertahan-tahan “Mama, mama …” dan pipinya basah oleh air mata.
“Waktu habis, kumpulkan semua ke depan,” ujar Ibu Guru Tati.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar